Sedemikian tinggi dan mendalamkah seorang hamba Allah
mesti terbang dan melayang ke semesta ilmu dan kemuliaan?
Tidakkah manusia bisa bersikap wajar dan biasa-biasa saja?
Ataukah itu alibi untuk memaafkan kelemahan diri,
keterbatasan, dan kekurangannya dalam melakukan sesuatu?
Jangan dengarkan suaraku, karena suaraku buruk.
Dengarkanlah suara Tuhan…
Kalau suaraku buruk, orang justru akan sangat mengingatnya
karena tersiksa. Kalau suaraku agak bagus,
orang mengingatnya, tapi dengan kadar yang lebih rendah
dibanding ingatan terhadap suara buruk — sebab
kecengengan manusia terhadap penderitaan cenderung
lebih besar dibanding rasa syukurnya terhadap kegembiraan.
Dengan ungkapan dan jawaban saya itu kenapa kau terpaku pada suaraku? Di situlah letak ketidakberhasilan yang saya maksud. Orang menikmati terangnya lampu tanpa mengingat kabel listrik. Orang menikmati makanan enak di warung dan tidak bertanya siapa nama orang yang memasaknya di dapur. Penyanyi, pembaca puisi, qari, pelukis, muballigh, penyampai ilmu, pembawa hikmah, atau fungsi-sungsi nilai apa pun, hanyalah ‘kabel listrik’.
Tidaklah senonoh kita menuntut orang untuk mengagumi kita sebagai kabel listrik, sebab yang sampai ke mereka adalah cahaya. Tukang listrik jangan kasih dan taruh lilitan kabel-kabel ke wajah orang. Kita para seniman, ulama, pengurus negara, pekerja sosial, fungsionaris-fungsionaris sejarah, di wilayah mana pun dari kehidupan umat manusia — wilayah mana pun dari kehidupan umat manusia — hanyalah pengantar cahaya, bukan cahaya itu sendiri. Seperti rembulan, kita hanya memantulkan cahaya matahari agar menimpa bumi. Terkadang kita malah merekayasa berlangsungnya gerhana matahari untuk mengantarkan kegelapan, tetapi sambil memobilisasi orang untuk mengagumi kita.
Seandainya pun sebagai rembulan kita setia memantulkan rahmat Tuhan ke bumi kehidupan manusia, yang kita andalkan untuk mendapatkan nilai bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan kadar kesetiaan. (Emha Ainun Nadjib)
Sungguh indah ungkapan ini, memang mas.. seseorang yang mengagumi kebesaran gunung, kerap kali tidak menyadari bagaimana kedasyatan proses sebutir debu hingga tersusun menjadi sebuah gunung. Salam Sahabat, dan itu gambarnya juga indah mas..
betul, dan bukankah alam semesta, adalah segumpal debu?
salam juga..
hidup adalah apa yang terlihat..
seperti itulah sebagian besar orang berpendapat..
yang di sorot adalah hasilnya sja, tanpa melihat materi2 penyusun dan proses pembuatannya …
setuju,….
kenapa ikut2an repot
agar terlihat aktif, enerjik, dan simpati
yosh!
sekedar kunjungan akhir bulan……
Nice blog, tapi kok ilustrasi gambarnya membuat mata saya “agak aneh ”
sebagai umpan untuk memancing ikan2 nakal..
Aku setuju dengan pendapat Mas Muhammad Jabir tentang gambarnya nih
Btw….artikel yang sangat menarik sekali nih
Link blog ini juga sudah aku pasang ya Boz….Thanks
iya deh, gambarnya diganti..
Kesetian kepada Tuhan harus diletakkan diatas segala-galanya, karena Tuhanlah yang memberikan kita hidup dan kehidupan.
Kesetiaan kepada manusia hanyalah fana
Salam dari pakde di Surabaya
Salam…. Trims dah mampir di blog saya…
hmm.. nice blog..
assalamualaikum
wah blog bagus tuh
salam, kenal yah kunjugi blog aku yah lam kenal
Wasalam.
“…..Sebuah catatan yang mencerahkan kembali 1kepinghati,…..”
Salam,
assalamualaikum
artikel yang menarik. memang manusia cuma tau hasil tapi jarang yg mau tau gmn proses mencapai hasil tersebut hingga sering kali hal2 yg kecil tak dihargai sebagai mana mesetinya
ini memang renungan lam kenal ja..link kamu dah ku pasang..kalau boleh link saya juga di back..yaw… hehe kliksekarang
Mantab gan… Teruslah menjadi penyambung Cinta Illahi, karena itulah bukti kesetiaanmu,,, Salam Ukhuwah dari saya
Yup,
Keindahan sebuah kestiaan yang dilukiskan dengan kata-kata yang indah.
Moga menebalkan iman kita di malam nisfu sya’ban ini!
tetaplah setia bagaimana pun keadaannya,,,,
Selamat dan sukses dengan artikel2 yg manis!
silaturahmi> Sudahkah Engkau Merdeka?
Seandainya pun sebagai rembulan kita setia memantulkan rahmat Tuhan ke bumi kehidupan manusia, yang kita andalkan untuk mendapatkan nilai bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan kadar kesetiaan.
wah ini kata2 yang sangat dalem..
butuh beberapa saat tuk bisa mencerna maknanyaa
banyak temen banyak ilmu yang bermampaat.. mudah2 mampaat. untuku dan teman2
wow anda berbakat dalam pemilihan tulisan
kabel listrik kang gak pernah demo … hanya memberi tak harap kembali … bagai sang surya menyinari dunia …
salam.
mana posting terbarunya kok nggak muncul- muncul ya? salam sahabat!
Tulisan yg maknanya dalam sekali. Bener banget tu. Kabel listrik hanya sebagai penyalur bukan cahaya itu sendiri.. Dengan pemikiran demikian manusia akan ingat untuk introspeksi diri selalu. Tak perlu merasa teramat berarti atau merugi karena telah berbuat banyak, poin pentingnya adalah kadar kesetiaan…
Lanjutkan postingannya..
Ada award tuk Fadillah Cinta.. sebuah Award Persahabatan yg mulanya dari Malaysia. Aku lanjutkan ke blogmu. Ambil di blog ku ya..
Salam Persahabatan
Ya, selalu ada Dia dibalik segalanya, semoga kita selalu ingat..
manusia kadang lupa untuk bersyukur dan mereka selalu merasa kekurangan padahal dibalik kekurangn ada kelebihannya.
ok. i agrre with u guys..
keren boss postingannya, bnyk yg comment
wow sekian lama tak online, kini komennya sebanyak ini..
trmksh..