Fiqhul Waqi’ 2/6

tabligh 4

D. YANG KAMI INGINKAN “MANHAJ” BUKAN SEKEDAR BICARA.

Memang benar banyak yang membicarakan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah di zaman ini, serta mengisyaratkan kepada keduanya, ini adalah hal yang patut disyukuri alhamdulillah. Namun demikian yang wajib dan yang kami inginkan, bukan sekedar menulis disini dan ceramah disana, akan tetapi yang kami kehendaki, kita pahami keduanya dengan pemahaman yang benar sebagaimana yang terjadi di masa generasi pertama (para Sahabat), kemudian kita, menjadikannya sebagai bingkai/batasan umum bagi setiap urusan, baik yang kecil maupun yang besar. Manhaj al-Qur’an dan as-Sunnah hendaknya menjadi syi’ar (semboyan) dan lambang bagi dakwah sejak permulaan hingga akhir. Dengan demikian diharapkan dari mereka yang didakwahi, baik generasi muda atau yang lainnya akan terus berkesinambungan sejalan dengan “manhaj yang mulia” ini yang dengan berpegang teguh dan berjalan di atasnya ummat akan menjadi baik.

Keberadaan ulama pada setiap disiplin ilmu yang telah disebutkan di atas adalah sebuah keharusan. Terutama dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih berdasarkan pada ketentuan/kriteria yang jelas dan pokok-pokok kaidah yang telah diterangkan.

Akan tetapi kami telah mendengar dan memperhatikan dengan seksama, banyaknya jumlah pemuda muslim yang terperangkap dalam permasalahan seputar Fiqhul Waqi’ yang seakan-akan tidak ada jalan keluar, mereka terpecah menjadi dua kelompok, sehingga sangat disayangkan kedua kelompok ini sebagian bersikap melampui batas terhadap masalah ini, dan sebagian lainnya lebih cenderung menggampangkan atau menganggap enteng serta tidak memiliki kepedulian terhadapnya.

Bahwasanya anda akan melihat dan mendengar dari mereka yang memperbesar urusan Fiqhul Waqi’, serta meletakkannya tidak pada posisi yang semestinya, melebihi tingkat pengamalannya yang tepat (sesuai). Yang dikehendaki mereka bahwa setiap orang yang alim dalam masalah syariat, harus alim pula dalam apa yang mereka namakan Fiqhul Waqi’.

Sebagaimana realitanya bahwa kebalikan dari apa yang mereka inginkan terjadi pada diri mereka. Sungguh mereka telah menanamkan sebuah anggapan terhadap orang-orang yang mendengarkan ucapan-ucapan mereka atau orang yang berada diseputar mereka, bahwasanya setiap orang yang mengetahui realita dunia Islam, sama dengan seorang alim yang memahami al-Qur’an dan as-Sunnah diatas pemahaman Salafush Shalih.

Telah diketahui bahwa Fiqhul Waqi’ bukanlah sebuah kelaziman sebagaimana yang telah kami isyaratkan diatas, lagi pula tidak pernah tergambar/terbayang oleh kami keberadaan seorang manusia yang sempurna yang mampu memahami seluruh ilmu yang telah kami sebutkan dan isyaratkan diatas.

suratJika demikian kondisinya, maka menjadi kewajiban untuk berpartisipasi menolong mereka yang telah meluangkan waktu dalam mengetahui dan mengenal realita ummat Islam, serta apa saja yang menjadi lawannya. Dengan bekerja sama antar para ulama yang memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sejalan dengan faham Salaf, maka mereka (ulama Fiqhul Waqi’) mengemukakan gambaran-gambaran dan pemikiran mereka terhadap realita ummat, sedangkan ulama yang memahami al-Qur’an dan as-Sunnah menerangkan serta menjelaskan hukum Allah Jalla Jalaluhu kepada mereka, serta nasihat yang berdiri tegak diatas dalil yang shahih/benar dan hujjah/bukti yang terang benderang.

Adapun jika seorang yang berbicara Fiqhul Waqi’, lalu dia dipandang oleh para pendengarnya sebagai salah seorang ulama dan pemberi fatwa, hanya karena ia berbicara tentang fiqh tersebut, hal seperti ini tidak dapat dihukumi sebagai sikap yang benar dari segala sudut pandang. Sebab nantinya dia akan menjadikan pembicaraan orang tersebut sebagai sandaran/pegangan yang dengannya ia menolak fatwa para ulama dan membatalkan upaya ijtihad dan hukum-hukum yang telah mereka putuskan.

E. KEKELIRUAN SEORANG ALIM TIDAK MENJATUHKAN

Yang sangat perlu untuk diterangkan pada kesempatan ini, bahwa seorang alim terkadang keliru atau salah dalam menghukumi suatu perkara tertentu dari sekian banyak problematika waqi’iyyah. Hal semacam ini adalah suatu perkara yang terjadi dan akan terjadi, akan tetapi apakah kasus tersebut menjatuhkan martabat sang alim itu atau ini ?. Dan menjadikan orang yang menyelisihinya menyipatinya dengan kata-kata yang tidak sepatutnya dikatakan kepadanya. Seperti dikatakan padanya, ini adalah seorang ahli fiqh dalam masalah syariat dan bukan ahli dalam masalah realita ummat (Fiqhul Waqi’). Pembagian semacam ini akan menyelisihi tuntunan syariat sekaligus menyelisihi realita. Sebab dari ucapan mereka itu seakan-akan mengharuskan kepada para ulama al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengetahui dan menguasai bidang perekonomian, sosial kemasyarakatan politik, militer, cara penggunaan persenjataan mutakhir dan lain sebagainya.

Saya tidak mengira bahwa seorang yang berakal sehat akan tergambar atau terbayang padanya kemungkinan terkumpul/terpadunya seluruh ilmu dan pengetahuan tersebut dalam dada seseorang meskipun ia seorang alim yang sempurna.

Advertisements

2 comments on “Fiqhul Waqi’ 2/6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s