Keajaiban Jari Jemari

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka;
dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi
kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
(QS. 36. Yaasin: 65)

Di antara ni’mat Allah yang besar kepada manusia adalah diberikannya tangan dan kaki yang sangat besar manfaat kegunaannya. Di ujung tangan itu ada jari jemari yang memiliki banyak sekali fungsi dan kegunaan. Selain untuk mengambil, meletakkan atau membawa sesuatu bersama telapak tangan jari jemari dapat mengepal, memijit, menggosok, memukul, menonjok, menjitak, memilin, memelintir, meremas, membelai, menusuk, mencengkeram, dan lain-lain.

Jari-jemari tangan kita kiri kanan masing-masing terdiri dari 5 sehingga semuanya ada 10 dan masing-masing memiliki 4 ruas (kecuali jempol = 3 ruas) sehingga jumlah keseluruhannya 38 ruas.

Tahukah anda, jumlah jari jemari anda mengandung keajaiban angka 19 ? (catatan: dengan mengabaikan ruas-ruas tulang pergelangan). Silakan anda hitung sendiri maka akan anda dapati sbb: Continue reading

Advertisements

Fiqhul Waqi’ 3/6

F. TIDAK MENGENAL WAQI’ ADALAH SEBUAH KEKELIRUAN

$r8h6umsj76_1234Kami telah mendengar dari beberapa orang berkata : “Tidak penting bagi kita mengetahui realita ini”. Ucapan ini sebuah kekeliruan. Yang tepat/adil jika dikatakan : “Bagi setiap ilmu yang beragam itu harus ada beberapa orang yang membidangi dan menjadi ahlinya, mereka saling tolong menolong , bahu membahu secara benar dan jujur sesuai dengan tuntunan syariat, tanpa adanya pengkotak-kotakan (hizbiyyah) dan fanatisme. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan kebaikan/kepentingan ummat Islam dan menegakkan apa yang menjadi cita-cita setiap muslim, yaitu menerapkan syariat Allah di setiap belahan bumi yang tidak menjalankannya”

Dengan demikian setiap ilmu-ilmu tersebut adalah wajib secara kifayah atas sejumlah ulama kaum muslimin, dan bukan merupakan kewajiban atas seseorang untuk mengumpulkan pada dirinya secara sendirian, lagi pula secara realita hal itu adalah perkara yang mustahil.

Sebagai contoh, terkadang tidak boleh seorang dokter untuk melakukan sebuah operasi tertentu, kecuali jika telah meminta pendapat seorang alim yang telah memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf. Sebab jika kitapun tidak mengatakan mustahil, namun merupakan hal yang amat sulit keberadaan seorang dokter yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidangnya sekaligus sebagai seorang yang benar-benar memahami al-Qur’an dan as-Sunnah serta hukum-hukum yang dikandung oleh keduanya. Continue reading

Fiqhul Waqi’ 2/6

tabligh 4

D. YANG KAMI INGINKAN “MANHAJ” BUKAN SEKEDAR BICARA.

Memang benar banyak yang membicarakan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah di zaman ini, serta mengisyaratkan kepada keduanya, ini adalah hal yang patut disyukuri alhamdulillah. Namun demikian yang wajib dan yang kami inginkan, bukan sekedar menulis disini dan ceramah disana, akan tetapi yang kami kehendaki, kita pahami keduanya dengan pemahaman yang benar sebagaimana yang terjadi di masa generasi pertama (para Sahabat), kemudian kita, menjadikannya sebagai bingkai/batasan umum bagi setiap urusan, baik yang kecil maupun yang besar. Manhaj al-Qur’an dan as-Sunnah hendaknya menjadi syi’ar (semboyan) dan lambang bagi dakwah sejak permulaan hingga akhir. Dengan demikian diharapkan dari mereka yang didakwahi, baik generasi muda atau yang lainnya akan terus berkesinambungan sejalan dengan “manhaj yang mulia” ini yang dengan berpegang teguh dan berjalan di atasnya ummat akan menjadi baik.

Keberadaan ulama pada setiap disiplin ilmu yang telah disebutkan di atas adalah sebuah keharusan. Terutama dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih berdasarkan pada ketentuan/kriteria yang jelas dan pokok-pokok kaidah yang telah diterangkan.
Continue reading

Fiqhul Waqi’ 1/6

ummah1

Bahwasanya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Hampir tiba saatnya ummat-ummat itu saling seru menyeru untuk memerangi kalian, sebagaimana orang yang akan makan saling menyeru untuk segera ketempat makannya. Seorang berkata “apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu ?” Beliau berkata : (tidak) bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak, namun kalian ibarat buih yang terbawa oleh banjir. Dan benar-benar Allah akan mencabut dari hati musuh-musuh kalian rasa segan mereka terhadap kalian, dan Allah akan melemparkan dalam hati kalian ‘al-wahan’, seorang bertutur : “Wahai Rasulullah apakah ‘al-wahn’ itu ?. Beliau menjawab : ‘Cinta dunia dan benci pada kematian”. [Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Abi Dunyaa dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam ‘Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah’ jilid 2, halaman 647. No. hadits 958]

Terungkap dengan sangat jelas dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini berbagai fenomena dan gambaran tentang “malapetaka besar” yang menimpa kaum muslimin, dan telah memecah belah persatuan mereka, melemahkan kemuliaan dan kehormatan mereka, serta memporak porandakan barisan-barisan mereka.

Salah satu sisi fitnah ini telah menimpa lubuk hati sejumlah besar para da’i dan penuntut ilmu. Sehingga -sangat disayangkan- merekapun terpecah dan terbagi. Sebagian mencela dengan sebagian yang lain, sedangkan yang lainnya mengeritik, membantah dan seterusnya. Continue reading

Makna Tauhid Uluhiyah

872092Uluhiyah adalah Ibadah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari’atkan seperti do’a, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” [An-Nahl : 36]

“Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” [Al-Anbiya’ : 25]

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain:

“Artinya : Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya.” [Al-A’raf: 59, 65, 73, 85].

“Artinya : Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya’.” [Al-Ankabut : 16] Continue reading

Gelar-Gelar Terlarang

firaunPemberian gelar kepada seseorang yang dikagumi ataupun kepada orang yang dibenci sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya. Namun sayangnya, banyak sekali di antara gelar yang diberikan oleh masyarakat tersebut yang ternyata bertentangan dengan syariat Islam yang mulia dan memiliki makna yang bathil.

Kita telah mengetahui bersama bahwa Alloh telah memberitakan sebagian nama dan sifat-Nya yang mulia melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits. Di antara nama-nama tersebut, ada 99 nama yang apabila kita menghitungnya maka kita akan masuk syurga. Perlu diketahui sebelumnya bahwa di antara ke-99 nama tersebut ada yang khusus milik Alloh dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya serta ada pula yang boleh diberikan kepada selain Alloh. Hal ini adalah konsekuensi dari Tauhid Asma’ wa Shifat (Mengesakan Alloh dalam Nama dan Sifat-Nya).

Kaitannya dengan kesalahan dalam pemberian gelar adalah bahwa sebagian gelar yang diberikan masyarakat kepada idolanya atau kepada tokoh yang dikaguminya, merupakan gelar yang hanya boleh diberikan dan dimiliki oleh Alloh ‘Azza wa Jalla. Gelar yang biasa diberikan sebuah masyarakat untuk pimpinannya atau untuk hakimnya adalah Raja para Raja (Raja Diraja), Hakim para Hakim dan yang sejenisnya. Gelar-gelar tersebut hanya boleh disandang oleh Alloh ‘Azza wa Jalla karena hanya Dialah Raja para Raja dan Hakim para Hakim. Continue reading

Rambu-Rambu Ibadah

shalat-malamKata ibadah tentu sangat akrab bagi kaum muslimin. Ibadah merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Bahkan tujuan diciptakannya manusia dan jin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tiada lain hanya untuk beribadah kepadaNya.

Di tengah rutinitas menjalankan aktivitas ibadah, bisa jadi tidak semua muslim paham makna ibadah itu sendiri. Padahal, ketidakpahaman makna ibadah bisa mengakibatkan tertolaknya ibadah yang dilakukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al Ubudiyyah menerangkan, ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bisa terdiri dari ucapan maupun perbuatan, baik nampak maupun tidak.

Semua yang Allah cintai telah Allah bawakan dalam Al Qur’an dan diterangkan oleh RasulNya. Begitu pula apa yang Allah benci, telah Allah jelaskan. Sehingga di dalam Al Qur’an dan Al Hadits, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan suatu perbuatan karena Allah mencintainya dan Allah melarang sebuah perbuatan karena Allah membencinya. Karena itu, dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyyah mengatakan ibadah adalah taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan melakukan apa yang Allah perintahkan melalui lisan para RasulNya. Continue reading

Menggapai Kemenangan dengan Tauhid

Saladin-lRasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam berkata kepada sahabat Mu’adz ibnu Jabal, “Maukah kuberitahukan padamu pokok amal, tiang, serta puncaknya?” Mu’adz menjawab, “Mau, ya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam.” Beliau bersabda, “Pokok amal adalah Islam dan tiang-tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR Tirmidzi)

Tidak diragukan lagi bahwa jihad adalah amalan yang tertinggi, puncak ketinggian Islam. Jihad adalah salah satu prinsip dari prinsip-prinsip aqidah al islamiyyah. Dengan berjihad berarti menjadikan agama seluruhnya untuk Allah, mencegah kezholiman dan menegakkan yang haq, memelihara kemuliaan kaum muslimin dan menolong kaum mustadh’afin. Allah berfirman, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS Al Anfaal: 39).

Sebaliknya dengan berjihad juga berarti menghinakan musuh-musuh Allah, mencegah kejahatannya, menjaga kehormatan kaum muslimin, dan menghancurkan kaum kafirin. Allah berfirman, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar.” (QS At Taubah: 29). Continue reading

Istri Shallehah

akhIsteri yang baik secara total akan mudah membentuk rumahtangga bahagia tetapi sebaliknya isteri yang tidak memahami akan tanggungjawabnya sudah pasti akan melahirkan rumahtangga yang kucar-kacir.

Kita sadar dan faham rumahtangga yang bahagia lahir dari isteri yang solehah, tetangga yang baik dan kendaraan yang sempurna. Dan wanita adalah penentu buruk baik sebuah masyarakat.Sedangkan masyarakat yang baik lahir dari rumahtangga dan keluarga yang bahagia.

Wanita dengan sifat kehalusan yang dianugerahi oleh Allah s.w.t. cocok sekali sebagai pengasuh, pendidik anak-anak, pembimbing dan juga penghibur hati suami. Dari sifat asal dengan kehalusan ini jika dididik dan diasuh serta dihalusi hatinya sejak awal-awal agar kematangan berfikir dan tingkah laku yang mulia sebagai persiapan seorang isteri yang solehah, sudah pasti berhasil.

Rumahtangga bahagia bisa diasaskan oleh isteri akhlakul karimah perlulah memenuhi tanggungjawab yang digariskan dalam tuntutan pembetukan rumahtangga yang bahagia. Tanggungjawab ini perlulah benar-benar difahami, dihayati dan dilaksanakan agar cita-cita untuk melahirkan rumahtangga bahagia berhasil.

1. Taat dan kasih kepada Allah dan Rasul

Ketaatan kepada Allah akan jelas dilihat dari segala perintah dan larangan yang telah ditetapkan dipatuhi dengan sesungguhnya. Perintah dan larangan ini tergambar dengan jelas sebagaimana yang dibawakan oleh Rasulullah s.w.a. Ketaatan yang tidak terbagi-bagi dengan sendirinya akan melahirkan disanubari perasaan kasih kepadanya. Continue reading