Makna Tauhid Uluhiyah

872092Uluhiyah adalah Ibadah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari’atkan seperti do’a, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” [An-Nahl : 36]

“Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” [Al-Anbiya’ : 25]

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain:

“Artinya : Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya.” [Al-A’raf: 59, 65, 73, 85].

“Artinya : Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya’.” [Al-Ankabut : 16] Continue reading

Gelar-Gelar Terlarang

firaunPemberian gelar kepada seseorang yang dikagumi ataupun kepada orang yang dibenci sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya. Namun sayangnya, banyak sekali di antara gelar yang diberikan oleh masyarakat tersebut yang ternyata bertentangan dengan syariat Islam yang mulia dan memiliki makna yang bathil.

Kita telah mengetahui bersama bahwa Alloh telah memberitakan sebagian nama dan sifat-Nya yang mulia melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits. Di antara nama-nama tersebut, ada 99 nama yang apabila kita menghitungnya maka kita akan masuk syurga. Perlu diketahui sebelumnya bahwa di antara ke-99 nama tersebut ada yang khusus milik Alloh dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya serta ada pula yang boleh diberikan kepada selain Alloh. Hal ini adalah konsekuensi dari Tauhid Asma’ wa Shifat (Mengesakan Alloh dalam Nama dan Sifat-Nya).

Kaitannya dengan kesalahan dalam pemberian gelar adalah bahwa sebagian gelar yang diberikan masyarakat kepada idolanya atau kepada tokoh yang dikaguminya, merupakan gelar yang hanya boleh diberikan dan dimiliki oleh Alloh ‘Azza wa Jalla. Gelar yang biasa diberikan sebuah masyarakat untuk pimpinannya atau untuk hakimnya adalah Raja para Raja (Raja Diraja), Hakim para Hakim dan yang sejenisnya. Gelar-gelar tersebut hanya boleh disandang oleh Alloh ‘Azza wa Jalla karena hanya Dialah Raja para Raja dan Hakim para Hakim. Continue reading

Menggapai Kemenangan dengan Tauhid

Saladin-lRasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam berkata kepada sahabat Mu’adz ibnu Jabal, “Maukah kuberitahukan padamu pokok amal, tiang, serta puncaknya?” Mu’adz menjawab, “Mau, ya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam.” Beliau bersabda, “Pokok amal adalah Islam dan tiang-tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR Tirmidzi)

Tidak diragukan lagi bahwa jihad adalah amalan yang tertinggi, puncak ketinggian Islam. Jihad adalah salah satu prinsip dari prinsip-prinsip aqidah al islamiyyah. Dengan berjihad berarti menjadikan agama seluruhnya untuk Allah, mencegah kezholiman dan menegakkan yang haq, memelihara kemuliaan kaum muslimin dan menolong kaum mustadh’afin. Allah berfirman, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS Al Anfaal: 39).

Sebaliknya dengan berjihad juga berarti menghinakan musuh-musuh Allah, mencegah kejahatannya, menjaga kehormatan kaum muslimin, dan menghancurkan kaum kafirin. Allah berfirman, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar.” (QS At Taubah: 29). Continue reading